Selasa, 03 November 2009

ANDROPAUSE

ANDROPAUSE,
MEMPENGARUHI KUALITAS HIDUP PRIA



Andropause adalah kondisi klinis akibat kekurangan androgen di dalam darah atau
penurunan sensitivitas testosteron di dalam jaringan. Akibat kekurangan testosteron di dalam jaringan dapat menyebabkan berbagai gejala dan tanda-tanda klinis, yakni
(1) menurunnya potensi dan libido,
(2) perubahan mood termasuk depresi, mudah tersinggung, dan kecemasan,
(3) mudah lelah dan sulit tidur,
(4) berkurangnya kekuatan otot serta menumpuknya lemak di organ,
(5) berkurangknya kepadatan tulang, dan
(6) menurunnya tanda-tanda seksual sekunder.

Perhatian masyarakat medis terhadap perubahan-perubahan fisiologik terhadap pria yang
berusia lanjut tidak sebanyak pada wanita yang mengalami menopause. Pada wanita
menopause terlihat sekali adanya perubahan yang drastis akibat menurunnya fungsi organ
reproduksi setelah terjadi penurunan yang mendadak hormon estrogen dan progeteron. Pada
pria penurunan fungsi gonad tidak terlihat nyata karena bersifat perlahan-lahan.

Beberapa ahli memakai istilah androgen deficiency in the aging male (ADAM) atau partial androgen deficiency in the aging male (PADAM).

Testosteron adalah hormon androgen yang paling banyak beredar di sirkulasi perifer.
Sebagian besar hormon ini diproduksi oleh sel Leydig testis (90-95%) dan sisanya (5-10%)
oleh kelenjar adrenal.

Pengaruh Testosteron pada Berbagai Organ
1. Susunan saraf pusat: Libido, energi, kognitif, memori
2. Liver : Menurunkan kadar kholesterol, HDL
3. Ginjal : Meningkatkan eritropoitin
4. Prostat : Bertambah besar,
5. Genital : Perkembangan genitalia, ereksi, pembentukan sperma
6. Jaringan lemak : pembakaran lemak meningkat, menurunkan penimbunan lemak pada perut
7. Tulang : meningkatkan densitas mineral tulang, Massa dan kekuatan otot.

ETIOLOGI

Penurunan tetosteron pada manula disebabkan oleh berbagai faktor, tetapi faktor yang
sangat penting adalah menurunnya jumlah ataupun terjadi kerusakan sel-sel Leydig testis. Faktor Resiko Timbulnya Kekurangan Testosterone
• Usia lanjut
• Penyakit kronis: diabetes, gagal ginjal akut, infeksi HIV, rheumatoid artritis, kanker, dan
penyakit paru-paru obstruksi menahun,arteiosklerosis koroner
• Osteoporosis
• Obat-obatan: kortikosteroid sistemik, opiat, estrogen, antiandrogen
• Obesitas
• Malnutrisi
• Konsumsi alkohol kronis
• Stress fisis berat (luka bakar)
disamping itu semakin lanjut usia, terjadi beberapa perubahan histomorfologi pada testis,


TESTOSTERON DAN DISFUNGSI EREKSI

Usia lanjut diikuti oleh respon seksual yang menurun secara perlahan-lahan; dengan
manifestasi: sensitivitas penis menurun, bangkitnya respons seksual menjadi lama, rigiditas
penis berkurang, ereksi sulit dibangkitkan, orgasme kurang intens, terjadi lemahnya ereksi yang lebih cepat..
Prevalensi disfungsi ereksi pada usia 70 meningkat tiga kali jika dibandingkan dengan usia
30 tahun.. Adanya penyakit vaskuler, neurologis, psikologik, serta beberapa penyakit kronis lain pada usia tua yang bersamaan dengan rendahnya kadar testosteron memperberat kondisi disfungsi ereksi.

DIAGNOSA ANDROPAUSE

Diagnosis andropause ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis, dan
pemeriksaan laboratorium terutama kadar testosteron..
Pada pemeriksaan fisis dicari kemungkinan terdapat pembesaran payudara, disstribusi rambut pubis. Pemeriksaan testis diperhatikan konsistensi dan ukurannya. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah pemeriksaan colok dubur untuk mencari kemungkinan adanya pembesaran prostat atau kanker prostat.

KUESIONER DASAR ANDROPAUSE

1. Apakah libido anda menurun?
2. Apakah anda kurang tenaga?
3. Apakah daya tahan dan kekuatan fisik anda menurun?
4. Apakah tinggi badan anda berkurang
5. Aapakah anda merasa kenikmatan hidup menurun?
6. Apakah anda merasa susah dan cepat marah?
7. Apakah kekuatan ereksi anda berkurang?
8. Apakah anda merasakan kemampuan dalam berolah raga menurun?
9. Apakah anda sering mengantuk dan tertidur sehabis makan malam?
10. Apakah anda merasakan ada perubahan/penurunan pada prestasi kerja?

TERAPI

Tujuan terapi medis pada andropause adalah mengembalikan fungsi seksual antara lain
libido dan sense of well being. Tujuan lain terapi sulih hormon ini adalah mencegah terjadinya osteoporosis, memperbaiki densitas tulang, mempertahankan kejantanan, memperbaiki ketajaman mental, dan mengembalikan kadar growth hormone. Pemberian testosteron selain mengembalikan kadar testosteron di dalam serum juga mengembalikan kadar metabolit aktif testosteron, yakni dihidrotestosteron dan estradiol.

0 comments:

Poskan Komentar

Pengikut


counter

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Search

Recent Post

Recent Comment

My Blog List

Messenger

Chat