Minggu, 11 Januari 2009

KEDARURATAN UROLOGI NON TRAUMATIKA

KEDARURATAN UROLOGI NON TRAUMATIKA


Penyakit di dalam sistem urogenitalia dapat dengan cepat mengancam kelangsungan organ tersebut atau bahkan dapat mengancam jiwa pasien jika tidak segera mendapatkan pertolongan. Keterlambatan pertolongan yang diberikan tidak hanya berasal dari ketidaktahuan pasien terhadap penyakitnya, tetapi juga disebabkan karena petugas kesehatan kurang waspada terhadap timbulnya ancaman pada organ atau sistem organ tersebut.


Kedaruratan urologi bisa disebabkan oleh karena trauma urogenitalia maupun non traumatika. Pada trauma urogenitalia, biasanya dokter cepat memberikan pertolongan dan jika fasilitas yang tersedia tidak memadai, biasanya langsung merujuk ke tempat yang lebih
lengkap. Berbeda halnya dengan kedaruratan urogenitalia non traumatika, yang seringkali tidak terdiagnosis dengan benar, menyebabkan kesalahan penanganan maupun keterlambatan dalam melakukan rujukan ke tempat yang lebih lengkap, sehingga menyebabkan terjadinya kerusakan organ dan bahkan ancaman terhadap jiwa pasien.
Beberapa kedaruratan urologi non trauma tersebut di antaranya adalah:


(1) perdarahan atau hematuria,
(2) sumbatan aliran urine akut,
(3) infeksi berat/urosepsis, dan
(4) strangulasi atau gangguan aliran darah pada organ, seperti pada torsio testis,
priapismus, dan parafimosis.


HEMATURIA
Hematuria adalah didapatkannya sel-sel darah merah di dalam urine. Secara visual terdapatnya sel-sel darah merah di dalam urine dibedakan dalam 2 keadaan, yaitu: hematuria makroskopik dan mikroskopik.
Hematuria makroskopik adalah hematuria yang secara kasat mata dapat dilihat sebagai urine yang berwarna merah dan hematuria mikroskopik adalah hematuria yang secara kasat mata tidak dapat dilihat sebagai urine yang berwarna merah tetapi pada pemeriksaan mikroskopik diketemukan lebih dari 2 sel darah merah per lapangan pandang.
Hematuria makroskopik yang berlangsung terus menerus dapat mengancam jiwa karena dapat menimbulkan penyulit berupa: terbentuknya gumpalan darah yang dapat menyumbat
aliran urine, eksanguinasi sehingga menimbulkan syok hipovolemik/anemi, dan menimbulkan urosepsis.


Penyebab
Hematuria dapat disebabkan oleh kelainan-kelainan yang berada di dalam system urogenitalia atau kelainan yang berada di luar sistem urogenitalia. Kelainan yang berasal dari sistem urogenitalia antara lain adalah:
• Infeksi antara lain pielonefritis, glomerulonefritis, ureteritis, sistitis, dan uretritis
• Tumor jinak atau tumor ganas yaitu: tumor ginjal, tumor pielum, tumor ureter, tumor buli-buli,
tumor prostat, dan hiperplasia prostat jinak.
• Kelainan bawaan sistem urogenitalia, antara lain : kista ginjal
• Trauma yang mencederai sistem urogenitalia.
• Batu saluran kemih.

Kelainan-kelainan yang berasal dari luar sistem urogenitalia antara lain adalah: kelainan
pembekuan darah, SLE, dan kelainan sistem hematologik yang lain.


Diagnosis
Harus diyakinkan dahulu, benarkah seorang pasien menderita hematuria, pseudo hematuria, atau perdarahan per-uretra. Pseudo atau false hematuria adalah urine yang berwarna merah atau kecoklatan yang bukan disebabkan sel-sel darah merah. Keadaan ini dapat disebabkan oleh karena hemoglobinuria, mioglobinuria, konsentrasi asam urat yang meningkat, sehabis makan/minum bahan yang mengandung pigmen tumbuh-tumbuhan yang berwarna merah, atau setelah mengkonsumsi beberapa obat-obatan tertentu antara lain: fenotiazina, piridium, porfirin, rifampisin, dan fenolftalein. Perdarahan per-uretra adalah keluarnya darah dari meatus uretra eksterna tanpa melalui proses miksi, hal ini sering terjadi pada trauma uretra atau tumor uretra.

Anamnesis
Dalam mencari penyebab hematuria perlu digali data yang terjadi pada saat episode
hematuria, antara lain:


• Bagaimanakah warna urine yang keluar?
• Apakah diikuti dengan keluarnya bekuan-bekuan darah?
• Di bagian manakah pada saat miksi urine berwarna merah?
• Apakah diikuti dengan perasaan sakit ?




Pemeriksaan Fisis
Pada pemeriksaan diperhatikan adanya hipertensi yang mungkin merupakan manifestasi dari suatu penyakit ginjal. Syok hipovolumik dan anemia mungkin disebabkan karena banyak darah yang keluar. Diketemukannya tanda-tanda perdarahan di tempat lain adalah petunjuk adanya kelainan sistem pembekuan darah yang bersifat sistemik. Palpasi bimanual pada ginjal perlu diperhatikan adanya pembesaran ginjal akibat tumor, obstruksi, ataupun infeksi ginjal. Massa pada suprasimfisis mungkin disebabkan karena retensi bekuan darah pada buli-buli. Colok dubur dapat memberikan informasi adanya pembesaran prostat benigna maupun karsinoma prostat.


Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan urinalisis dapat mengarahkan kita kepada hematuria yang disebabkan oleh faktor glomeruler ataupun non glomeruler.
2. Pada pemeriksaan pH urine yang sangat alkalis menandakan adanya infeksi organisme pemecah urea di dalam saluran kemih, sedangkan pH urine yang sangat asam mungkin berhubungan dengan batu asam urat.
3. Sitologi urine diperlukan untuk mencari kemungkinan adanya keganasan sel-sel urotelial.
4. IVP adalah pemeriksaan rutin yang dianjurkan pada setiap kasus hematuria. Pemeriksaan
ini dapat mengungkapkan adanya batu saluran kemih, kelainan bawaan saluran kemih, tumor urotelium,
trauma saluran kemih, serta beberapa penyakit infeksi saluran kemih.
5. USG berguna untuk melihat adanya massa yang solid atau kistus, adanya batu non opak, bekuan darah pada buli-buli/pielum, dan untuk mengetahui adanya metastasis tumor di hepar.
6. Sistoskopi atau sisto-uretero-renoskopi (URS) dikerjakan jika pemeriksaan penunjang di atas belum
dapat menyimpulkan penyebab hematuria.


Penatalaksanaan
Jika terdapat gumpalan darah pada buli-buli yang menimbulkan retensi urine, dicobadilakukan kateterisasi dan pembilasan buli-buli dengan memakai cairan garam fisiologis, tetapi jika tindakan ini tidak berhasil, pasien secepatnya dirujuk untuk menjalani evakuasibekuan darah transuretra dan sekaligus menghentikan sumber perdarahan. Jika terjadi eksanguinasi yang menyebabkan anemia, harus difikirkan pemberian transfusi darah. Demikian juga jika terjadi infeksi harus diberikan antibiotika.
Setelah hematuria dapat ditanggulangi, tindakan selanjutnya adalah mencari penyebabnya dan selanjutnya menyelesaikan masalah primer penyebab hematuria.


SUMBATAN URINE AKUT
Keadaan gawat darurat urologi yang paling sering dijumpai di klinik dan praktek dokter adalah sumbatan urine akut. Sumbatan ini dapat terjadi pada sistem saluran kemih sebelah atas maupun pada saluran kemih bagian bawah. Pada saluran kemih bagian atas memberikan manifestasi klinis berupa kolik atau anuria sedangkan pada saluran kemih bagian bawah berupa retensi urine.


KOLIK URETER ATAU KOLIK GINJAL
Kolik ureter atau kolik ginjal adalah nyeri pinggang hebat yang datangnya mendadak,
hilang-timbul (intermitten) yang terjadi akibat spasme otot polos untuk melawan suatu hambatan. Perasaan nyeri bermula di daerah pinggang dan dapat menjalar ke seluruh perut, ke daerah inguinal, tetis, atau labium. Penyebab sumbatan pada umumnya adalah batu, bekuan darah, atau debris yang berasal dari ginjal dan turun ke ureter. Batu kecil yang turun ke pertengahan ureter pada umumnya menyebabkan penjalaran nyeri ke pinggang sebelah lateral dan seluruh perut. Jika batu turun mendekati buli-buli biasanya disertai dengan keluhan lain berupa sering kencing dan urgensi.


Gambaran Klinis
Pasien tampak gelisah, nyeri pinggang, selalu ingin berganti posisi dari duduk, tidur
Kemudian berdiri guna memeperoleh posisi yang dianggap tidak nyeri. Denyut nadi meningkat karena kegelisahan dan tekanan darah meningkat pada pasien yang sebelumnya normotensi. Tidak jarang dijumpai adanya pernafasan cepat dan grunting terutama pada saat puncak nyeri.


Jika disertai demam harus waspada terhadap adanya infeksi yang serius atau urosepsis. Dalam keadaan ini pasien secepatnya harus dirujuk karena mungkin memerlukan tindakan drainase urine. Palpasi pada abdomen dan perkusi pada daerah pinggang akan terasa nyeri.


Laboratorium
Pemeriksaan sedimen urine sering menunjukkan adanya sel-sel darah merah. Tetapi pada sumbatan total saluran kemih tidak didapatkan sel-sel darah merah, yaitu kurang lebih terdapat pada 10% kasus. Diketemukannya piuria perlu dicurigai kemungkinan adanya infeksi, sedangkan didapatkannya kristal-kristal pembentuk batu (urat, kalsium oksalat, atau sistin) dapat diperkirakan jenis batu yang menyumbat saluran kemih.


Pencitraan
Pemeriksaan foto polos perut ditujukan untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih, tetapi hal ini seringkali tidak tampak karena tidak disertai persiapan pembuatan foto yang baik. Ultrasonografi dapat menilai adanya sumbatan pada ginjal berupa hidronefrosis. Setelah episode kolik berlalu dilanjutkan dengan pemeriksaan foto IVP


Terapi
Serangan kolik harus segera diatasi dengan medikamentosa ataupun dengan tindakan lain. Obat-obatan yang sering dipakai untuk mengatasi serangan kolik adalah: antispasmodik, aminofilin, anti inflamasi non steroid, meperidin, atau morfin. Jika pasien mengalami episode kolik yang sulit ditanggulangi ditawarkan untuk pemasangan kateter ureter double J (DJ stent), yaitu suatu kateter yang ditinggalkan mulai dari pelvis renalis, ureter hingga buli-buli,
Pasien yang menujukkan gejala-gejala gangguan sistem saluran cerna (muntah-muntah atau ileus) sebaiknya dimasukkan ke rumah sakit untuk hidrasi pasien tetap terjaga. Diuresis pasien harus diperbanyak karena peningkatan diuresis akan mengurangi frekuensi serangan kolik


Anuria Obstruktif
Manifestasi dari sumbatan total aliran urine pada sistem saluran kemih sebelah atas adalah anuria yaitu berkurangnya produksi urine hingga kurang dari 200 ml dalam 24 jam. Anuria obstruktif ini terjadi jika terdapat sumbatan saluran kemih bilateral atau sumbatan saluran kemih unilateral pada ginjal tunggal. Selain disebabkan oleh adanya sumbatan di saluran kemih, anuria juga bisa disebabkan oleh: perfusi darah ke jaringan ginjal yang berkurang (disebut sebagai anuria pre renal) atau kerusakan pada jaringan ginjal (anuria intra renal).


Gambaran klinis
Pada anamnesis pasien mengeluh tidak kencing atau kencing hanya sedikit, yang kadang kala didahului oleh keluhan obstruksi yang lain, yaitu nyeri di daerah pinggang atau kolik; dan tidak jarang diikuti dengan demam. Jika didapatkan riwayat adanya kehilangan cairan, asupan cairan yang berkurang, atau riwayat menderita penyakit jantung, harus diwaspadai adanya faktor penyebab pre renal. Perlu ditanyakan kemungkinan pemakaian obat-obat nefrotoksik, pemakaian bahan kontras untuk foto radiologi, setelah menjalani radiasi di daerah perut sebelah atas, riwayat reaksi transfusi hemolitik, atau riwayat penyakit ginjal sebelumnya. Kesemuanya itu untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab intra renal.
Diperiksa keadaan hidrasi pasien dengan mengukur tekanan darah, nadi, dan perfusinya. Lebih baik jika dapat dipasang manometer tekanan vena sentral atau CVP (central venous pressure) sehingga dapat diketahui keadaan hidrasi pasien dengan tepat dan mudah. Tidak jarang dijumpai pasien datang dengan tanda-tanda uremia yaitu pernafasan asidosis, demam karena urosepsis atau dehidrasi, serta tanda-tanda ileus.
Palpasi bimanual dan perkusi di daerah pinggang bertujuan untuk mengetahui adanya nyeri atau massa pada pinggang akibat hidro atau pionefrosis. Pada colok dubur atau colok vagina mungkin teraba adanya karsinoma buli-buli, karsinoma prostat, atau karsinoma serviks stadium lanjut yang membuntu kedua muara ureter. Pemeriksaan laboratorium sedimen urine menunjukkan leukosituria atau hematuria. Pemeriksaan darah rutin diketemukan leukositosis, terdapat gangguan faal ginjal, tanda asidosis, atau hiperkalemia. Foto polos abdomen ditujukan untuk mencari adanya batu opak pada saluran kemih, atau bayangan pembesaran ginjal. Pemeriksaan ultrasonografi abdomen sangat penting karena dapat mengetahui adanya hidronefrosis atau pionefrosis; dan dengan tuntunan USG dapat dilakukan pemasangan katerer nefrostomi.


Terapi
Jika tidak segera diatasi, uropati obstruksi akan menimbulkan penyulit berupa uremia, infeksi, dan terjadi SIRS yang berakhir dengan kematian. Oleh karena itu sambil memperbaiki keadaan pasien, secepatnya dilakukan diversi/pengeluaran urine. Pengeluaran urine dapat dilakukan melalui pemasangan kateter nefrostomi atau kalau mungkin dilakukan pemasangan kateter double J.
Pemasangan kateter nefrostomi seperti pada gambar 12-2, dapat dilakukan secara perkutan yaitu dengan tuntunan ultrasonografi atau dengan operasi terbuka, yaitu memasang kateter yang diletakkan di kaliks ginjal agar urine atau nanah yang berada pada sistem pelvikalises ginjal dapat dikeluarkan. Kadang-kadang pasien membutuhkan bantuan hemodialisis untuk mengatasi penyulit akibat uremia


RETENSI URINE
Retensi urine adalah ketidak mampuan seseorang untuk mengeluarkan urine yang terkumpul di dalam buli-buli hingga kapasitas maksimal buli-buli terlampaui. Proses miksi terjadi karena adanya koordinasi harmonik antara otot detrusor buli-buli sebagai penampung dan pemompa urine dengan uretra yang bertindak sebagai pipa untuk menyalurkan urine. Adanya penyumbatan pada uretra, kontraksi buli-buli yang tidak adekuat, atau tidak adanya koordinasi antara buli-buli dan uretra dapat menimbulkan terjadinya retensi urine.


Gambaran Klinis
Pasien mengeluh tertahan kencing atau kencing keluar sedikit-sedikit. Keadaan ini harus dibedakan dengan inkontinensia paradoksa yaitu keluarnya urine secara menetes, tanpa disadari, dan tidak mampu ditahan oleh pasien. Selain itu tampak benjolan kistus pada perut sebelah bawah dengan disertai rasa nyeri yang hebat.
Pemeriksaan pada genitalia eksterna mungkin teraba batu di uretra anterior, terlihat batu di meatus uretra eksternum, teraba spongiofibrosis di sepanjang uretra anterior, terlihat fistel atau abses di uretra, fimosis/parafimosis, atau terlihat darah keluar dari uretra akibat cedera uretra. Pemeriksaan colok dubur setelah buli-buli dikosongkan ditujukan untuk mencari adanya hiperplasia prostat/karsinoma prostat, dan pemeriksaan refleks bulbokavernosus untuk mendeteksi adanya buli-buli neurogenik. Pemeriksaan foto polos perut menunjukkan bayangan buli-buli penuh, mungkin terlihat bayangan batu opak pada uretra atau pada buli-buli. Pada pemeriksaan uretrografi tampak adanya striktura uretra.


Penatalaksanaan
Urine yang tertahan lama di dalam buli-buli secepatnya harus dikeluarkan karena jika dibiarkan, akan menimbulkan beberapa masalah antara lain: mudah terjadi infeksi saluran kemih, kontraksi otot buli-buli menjadi lemah dan timbul hidroureter dan hidronefrosis yang selanjutnya dapat menimbulkan gagal ginjal. Urine dapat dikeluarkan dengan cara kateterisasi atau sistostomi. Tindakan penyakit primer dikerjakan setelah keadaan pasien stabil.
Untuk kasus-kasus tertentu mungkin tidak perlu pemasangan kateter terlebih dahulu
melainkan dapat langsung dilakukan tindakan definitif terhadap penyebab retensi urine, misalnya batu di meatus uretra eksternum atau meatal stenosis dilakukan meatotomi, fimosis atau parafimosis dilakukan sirkumsisi atau dorsumsisi.

0 comments:

Poskan Komentar

Pengikut


counter

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Search

Recent Post

Recent Comment

My Blog List

Messenger

Chat